Pages - Menu

Kamis, 07 April 2011

Muslimah dalam Dakwah




“Kalian hendaklah senantiasa mendakwahkan kebenaran dan mencegah kemaksiatan, menghentikan orang-orang zalim dari kezalimannya, dan mengajak mereka kepada kebaikan. Jika tidak, hati kalian akan disatukan dengan hati mereka dan kalian akan dilaknat oleh Allah seperti Allah telah melaknat Bani Israil.” (al-Hadits)

Saudariku, suatu ketika Rasulullah Saw. bersabda kepada Abdullah bin Mas’ud, “Bacakan al-Quran kepadaku.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepadamu?”

“Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya, “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. an-Nisa: 41).

Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.”

Ibnu Mas’ud kemudian menoleh ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa Rasulullah Saw. menangis.

Dalam kisah ini, kita memperoleh pelajaran yang sangat berharga, bahwa Rasulullah Saw. sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir beriman. Karena, balasan kekafiran adalah azab neraka jahanam. Rasulullah pernah melihat surga dan neraka. Beliau melihat, sungguh mengerikan neraka itu dan sungguh indah surga itu. Membayangkan semua itu, membuat hati Rasulullah Saw. bersedih dan airmata berlinangan membasahi pipinya.

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Rasulullah Saw. pernah mendirikan shalat malam, dengan membaca satu ayat yang diulang-ulang, yang berbunyi, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga.” (QS. al-Maidah: 118).

Tidak hanya itu, beliau selalu mendoakan umatnya. Sebuah riwayat menyebutkan, bahwa pada saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang pertama kali diucapkannya adalah, “Mana umatku?, mana umatku?, mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, “Allahumma salimna ummati”, ya Allah selamatkanlah umatku.

Serulah manusia ke jalan Allah, agar orang-orang yang lalai segera tersadarkan, dan agar orang-orang yang berada di pinggir jurang neraka terselamatkan dan masuk ke surga. Para penjahat bertobat, pelacur menjadi wanita beriman, mulut mereka melafazkan dzikir, mata mereka bersimbah airmata, hati mereka merasakan ketakutan kepada Allah.

Seandainya orang-orang kafir tidak memusuhi dan memerangi Islam, Rasulullah Saw. tentu tidak akan memerangi mereka. Beliau hanya ingin menyerukan dakwah dengan damai; menyeru manusia ke jalan kebenaran dan kesabaran.

Ketahuilah, bahwa menyeru manusia ke jalan Allah merupakan poros yang paling besar dalam agama dan merupakan tugas yang karenanya Allah mengutus para Nabi. Andaikan tugas ini ditiadakan, maka akan muncul kerusakan di mana-mana dan dunia pun akan binasa. Rasulullah Saw. bersabda, “Hendaklah kalian benar-benar menyuruh kepada yang ma’ruf dan benar-benar mencegah dari yang mungkar, atau benar-benar Allah akan menjadikan orang-orang yang jahat di antara kalian berkuasa atas orang-orang yang baik di antara kalian, lalu doa mereka pun tidak akan dikabulkan.”

Ibnu Abbas Ra. berkata, “Sesungguhnya orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan melata akan memohonkan ampunan baginya, termasuk pula ikan paus di lautan.”

Berdakwah bagi seorang muslim dan muslimah, tidak hanya menggunakan cara lisan saja, tetapi juga dapat menggunakan cara tulisan dan perbuatan. Seorang muslimah yang berprestasi – tanpa kata-kata – dapat memancarkan aura keteladanan bagi muslim yang lainnya. Karena, seringkali bahasa perbuatan jauh lebih kuat daripada bahasa lisan.

Begitupun jika seorang muslimah tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam berbicara ditengah khalayak, dia dapat belajar menggunakan penanya untuk berdakwah, dan efeknya bisa jauh lebih dahsyat daripada dengan lisan. Kelebihan tulisan adalah dakwah kita menjadi dapat terdokumentasi dengan baik.

Wanita muslimah pasti akan menerima informasi kebenaran, memeluk dan memeganginya, kemudian memperjuangkannya, meski harus mengorbankan diri. Prof. Amal Zakariya al-Anshari memformulasikan wanita pendakwah dan penyampai kebenaran di segala waktu dan tempat dalam sebuah artikel yang berjudul “Menjadi Istri Pendakwah: Apa dan Bagaimana?”, sebagai berikut:
1. Sebagai seorang manusia, seorang da’i pasti mengalami masa-masa lelah dan bosan, maka istri harus jeli dan tanggap dengan masalah ini. Jika dilihat suaminya mengalami hal tersebut maka ia harus memompa semangatnya untuk berdakwah, tanpa membuatnya merasa ia sedang menyinggungnya.

Dalam hal ini, istri dapat duduk di samping suaminya, lalu menyebutkan ayat-ayat, hadits-hadits atau kisah-kisah yang dapat memotivasinya untuk lebih maju, sambil menggerakkan kekuatan di dalam dirinya yang mampu meluluhlantakkan setiap kejenuhan.

2. Tidak akan membuat-buat masalah hanya karena hal sepele, sebab ia tahu suaminya membutuhkan kebeningan hati dan ketenangan jiwa, agar bisa kembali bekerja pada bidang dakwah dengan penuh obsesi dan vitalitas. Pertengkaran dan tekanan psikologis akan membunuh tekad kuat di dalam dirinya.

3. Mendukung dan membantunya melaksanakan kebaktian kepada kedua orang tuanya, sebab keduanya merupakan faktor penyebab yang menyokong keberhasilan, kesuksesan, dan kemenangan dalam meraih ridha Allah. Ia juga selalu mengingatkannya untuk menjalin silaturahim dengan mereka, yang sekaligus menjadi panutan bagi orang lain dalam hal ini.

4. Mengatur jadwal suaminya dan mengingatkannya tentang jadwal tersebut.

5. Menerima kekurangan suaminya dalam memenuhi haknya, jika memang dalam kerangka dakwah. Ia juga menghiburnya jika ia melihat suaminya sedang bersedih dan berduka, sehingga suaminya merasa lega dan aman berada di sisinya setiap kali merasa lelah dan penat.

6. Membantu suaminya mengurus masalah-masalah penghidupan selama ia mampu, sebab seorang da’I biasanya sibuk dengan masalah-masalah dakwah, yang merupakan implementasi jihad di jalan Allah.

7. Selalu tampil dengan penuh kelembutan, kesabaran, ketabahan, maaf, dan toleransi.

8. Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang benar dan membesarkannya dengan ajaran Islam tanpa menyandarkan sepenuhnya pada suaminya. Profesi seorang da’i menuntut suaminya untuk sering bepergian, sehingga ia harus sigap dalam menangani pendidikan dan perawatan anak-anak saat suaminya sibuk dengan urusan dakwah.

9. Selalu memakai busana Islami dan menjauhi tempat-tempat rusak, demi menghindari fitnah beragama dan keterjebakan ke dalam hal-hal syubhat.

10. Sesuatu yang paling menentramkan adalah berada di dada istri yang setia; senyum terindah adalah senyuman jujur istri tercinta; sentuhan terlembut adalah sentuhan halus yang membangkitkan ketenangan jiwa. Hal tersebut akan membuat sang da’i besar kembali seperti anak kecil yang tak berdosa, berkat kualitas keislaman dan pemahaman istrinya terhadap permasalahan yang ada.

Sesungguhnya wanita yang kurang begitu menetapi agamanya senantiasa menyerukan pada hal-hal yang bertentangan dengan Islam meskipun ia tidak berbicara sepatah kata pun dan meskipun tidak melancarkan seruannya ke arah itu. Demikianlah, karena dengan penampilannya tanpa jilbab saja sama halnya dengan seruan terang-terangan untuk membuka jilbab dan dengan berkhalwatnya dia dengan laki-laki lain sudah cukup jelas sama halnya dengan anjuran terang-terangan untuk berkhalwat dengan laki-laki lain dan seterusnya. Terlebih lagi jika dia menambahkan seruan diamnya itu dengan seruan bicaranya kepada teman-teman sekerjanya, teman sepergaulannya, dan para tetangganya, yaitu seruan untuk meninggalkan norma-norma, membebaskan diri dari akhlak terpuji, dan hidup menurut kemauan hawa nafsu, serta menyambut setiap bisikan yang dihembuskan oleh setan.

Oleh karena itu, pantaskah bila seorang muslimah yang menetapi agamanya alpa dari menyeru kepada mereka yang tidak menetapi agamanya, untuk kembali berpegang teguh pada ajaran agamanya?

oleh Dini Noviyanti, SPt., SPd

Tafakur Pernikahan: Kesederhanaan dalam Pesta Pernikahan




Ketika Nabi Muhammad Saw. menikahkan Fatimah Ra. dengan Ali bin Abi Thalib Ra., beliau mengundang Abu Bakar, Umar dan Usamah untuk membawakan "persiapan" Fatimah Ra.


Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah Saw. untuk putri terkasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak, kendi, dan sebuah piring.


Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis kemudian bertanya, "Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?" Nabi Muhammad Saw. pun menenangkannya, "Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia."


Fatimah Ra., sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang sangat sederhana. Tak ada perhiasan, apalagi pernik-pernik mahal.


Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca al-Quran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya. Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah.


Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali.


Bagaimana gadis sekarang? Mereka, mungkin tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts computer atau berada di laboratorium. Tapi bagaimana lidah, hati, dan mata mereka? Beberapa waktu yang lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri.


Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.


Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya.


Atau, ada juga orangtua jika anaknya yang akan menikah tidak diadakan pesta yang meriah dan mewah, maka ia merasa malu. Dengan segala daya dan upaya, baik dengan uang sendiri ataupun meminjam dari orang lain, orangtua tersebut mengadakan pesta pernikahan besar-besaran.


Banyak kejadian, pesta pernikahan yang terlihat mewah, namun setelah itu anak dan menantunya hidup sederhana dan kadang sangat memprihatinkan.


Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi "darah daging" kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika pesta pernikahan putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Rasulullah tetap menunjukkan kesederhanaan.




Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, "kemegahan" pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi.


Bagi orang-orang yang miskin juga, kisah Rasulullah Saw. ini menjadi teladan bagi mereka. Sehingga mereka dengan mudah menjalankan pernikahan tanpa terbebani hal-hal yang mereka sendiri tidak sanggup untuk melaksanakannya.


Rasul justru menunjukkan "kemegahan" kesederhanaan dan "kemegahan" sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, "Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah."


Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tercermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tercermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, "Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap." Wallahu ‘alam bish-shawab.

Kisah Fudhoil bin Iyadh



Fudhoil bin Iyadh dulu adalah orang yang amat kuat dan bekerja sehari-hari sebagai perampok jalanan. Sebab taubatnya adalah karena ia mencintai seorang wanita. Saat ia memanjat tembok rumah wanita tersebut, tiba-tiba ia mendengar suara frman Allah swt dibacakan:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah…” (Al-Hadid: 16)

Saat mendengar ayat itu, ia pun berkata,”Ya Robbi, sudah waktunya sekarang. “ Lalu ia pulang. Dimalam hari, ia keluar dengan membawa tombaknya. Ternyata ada sekelompok orang didekatnya. Sebagian berkata, “Kita lanjutkan perjalanan sekarang.” Yang lain berkata, “Kita tunggu hingga datang pagi, karena Fudhoil biasa mencegat orang-orang seperti kita di tengah jalan.” Fudhoil berkata dalam hati, “Aku berpikir, setiap malam aku melakukan maksiat, sementara orang-orang Islam lain merasa takut terhadap kejahatanku. Kalau mendekati mereka, pasti mereka akan ketakutan. Ya Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu. Kujadikan taubatku berdampingan dengan Masjidil Harom.”

Subhanallah….

Sikap Para Musuh Islam Terhadap Al Quranul Karim



Sesungguhnya para musuh Islam telah mengetahui sejak dahulu bahwa al Quranul Karim yang merupakan sumber kekuatan kaum muslimin dan rujukan bagi kemuliaan memiliki pengaruh yang amat besar terhadap musuh-musuh Islam. Maka apa yang harus mereka lakukan?

Mereka telah mengerahkan potensi yang amat besar demi menciptakan jurang pemisah antara al Quran dengan kaum muslimin.

Pemisahan itu sendiri sudah pasti bukan dengan merampas mushhaf al Quran dari berbagai perpustakaan, sekolah, dan rumah-rumah kaum muslimin, karena betapa banyak jumlah mushaf di segala tempat di bumi ini. Akan tetapi mereka memisahkan dengan cara melepaskan komitmen terhadap al Quran, menghilangkan sikap meneladani, membaca, dan menghayati makna al Quran.

Itulah upaya yang berusaha mereka terapkan, bahkan hingga kini mereka mash terus berusaha merealisasikannya. Lalu apa lagi yang di ungkapkan oleh para salibis terbesar tentang al Quranul Karim?

William Geofard, seorang salibis kawakan, menyatakan, “Apabila al Quran dan kota Mekah bisa dijauhkan dari kaum muslimin, kita akan bisa melihat orang-orang Arab mengikuti modernisasi dan menjauh dari ajaran Muhammad dan kitabnya.” (ungkapan-ungkapan ini di sadur langsung dari kitab Qodatu ‘I-Ghorob Yaqulun: Dammiru ‘I-Islam wa Abidu ‘I-Ahlahu oleh Jallalul ‘Alim.)

Kita bisa melihat bahwa kebanyakan orang meninggalkan ajaran al Quran, kebanyakan kaum muslimin hanya bepergian ke sana kemari, tetapi jarang yang bepergian ke kota Mekah. Kebanyakan kaum muslimin menyukai kemodernan Barat hingga mendominasi seluruh aktivitas mereka, baik dalam hal makan, minum, berpakaian, maupun rumah.

Seorang salibis lain yang bernama Tekly menegaskan, “Kita harus memanfaatkan Al Quran, karena Al Quran adalah senjata yang paling ampuh melawan Islam sendiri sehingga Islam bisa dihancurleburkan. (ungkapan-ungkapan ini di sadur langsung dari kitab Qodatu ‘I-Ghorob Yaqulun: Dammiru ‘I-Islam wa Abidu ‘I-Ahlahu oleh Jallalul ‘Alim.)

Pemerintah Perancis di Aljazair seabad yang lalu juga pernah menyatakan, “Kita harus menjauhkan Al Quran berbahasa Arab ini dari kaum muslimin, mancabut bahasa Arab dari lisan mereka sehingga kita bisa mengalahkan mereka. (Ibid.)

Ada ungkapan yang dinisbatkan kepada mereka, ‘Kita tidak akan mungkin mengalahkan Islam sebelum kita melepaskan hijab wanita muslimah dan menutup-nutupi ajaran Al Quran.”

Kita masih bertanya-tanya hingga sekarang, yakni setelah seluruh ungkapan tersebut diucapkan selama beberapa tahun yang lalu, “Apakah para musuh Islam telah berhasil merealisasikan apa yang mereka targetkan tersebut? Apakah kita sudah betul-betul menjauhi ajaran Kitabulloh?”

Jawabannya amatlah jelas, yaitu: sudah! Mereka telah memasang perangkap dan bekerja keras siang dan malam untuk menjauhkan kita dari al Quran. Mushhaf-mushhaf al Quran memang telah dicetak dalam jumlah banyak, harganya murah, dan terjangkau oleh setiap muslim. Akan tetapi itu hanya secara lahiriah saja. Isinya, jauh dari penerapan.
Tidak dipungkiri bahwa kita memang mencintai kitabullah. Akan tetapi hanya sebuah cinta picik, karena kita tidak melakukan upaya apapun demi cinta tersebut.

Sebagian kalangan menganggap bahwa ungkapan seperti itu berlebihan karena daurah-daurah masih sering diadakan, pengajian-pengajian al Quran juga masih tersebar disebagian besar kampung, madrasah-madrasah tahfizh al Quran masih penuh sesak oleh murid-muridnya. Akan tetapi coba kita perbandingkan antara yang gemar menghafal al Quran, memiliki perhatian terhadapnya, dan sudah memulainya, dengan mereka yang belum pernah memulai langkah pertama sekalipun. Pasti hasilnya akan berbeda sangat jauh.

Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari ra. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Bersuci adalah bagian dari iman (sahnya sholat). Kalimat ‘Alhamdulillah’ mengisi timbangan. Kalimat ‘Subhanallah’ dan ‘Alhamdulillah’ dapat mengisi ruang antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah hujah yang jelas, kesabaran adalah sinar terang, Al Quran adalah hujjah yang membela kita atau malah jadi boomerang bagi kita. Setiap orang akan pergi di pagi hari, ia kan menjual dirinya; ia bisa terbebas atau justru binasa” (HR. Muslim)

Berkaitan dengan cara mereka menjauhkan kita dari Kitabullah, amat panjang untuk di ulas, dan pada kesempatan ini tidak cukup untuk membahasnya secara detail. Namun sekedar contoh, mereka selama ini bertahun-tahun telah menyibukkan waktu kita dengan hura-hura, bahkan kita telah menganggapnya sebagai sesuatu yang esensial, diantaranya:

• Mengikuti berbagai acara televise seperti sinetron, iklan, pertandingan olahraga, dan berita.

• Kegemaran mengikuti trend baju baru yang seringkali menghabiskan banyak waktu, potensi, dan harta.

• Mengkonsumsi berbagai jenis makanan dan minuman serta kegemaran mempelajari resep baru ala barat, padahal kebanyakan makanan dan minuman tersebut mengandung zat-zat yang diharamkan oleh Islam seperti, khamr, minyak dan lemak babi, dsb.

Sekarang tugas kita adalah bertanya: Dari mana kita mengenal berbagai acara televisi? Siapa yang mengajarkan kaum muslimin untuk mengenal berbagai mode pakaian serta berbagai sarana kecantikan buatan semacam operasi plastic, tato, sambung rambut, dsb.?

Mereka adalah musuh kita, penyebab munculnya berbagai musibah di tengah-tengah kehidupan kita. Target mereka jelas dan tampak sekali, yakni menyibukkan kita dengan dengan berbagai hal sehingga kita melupakan tujuan Allah menciptakan kita, yaitu beribadah, dimana puncaknya adalah berkonspirasi meruntuhkan Daulah Khilafah Islam sebagai institusi yang melindungi aqidah Islam.

Allah berfirman:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Hendaknya kita selalu mengingat bahwa membaca Al Quran, menghafal, memahami, dan menerapkannya adalah bentuk ibadah paling mulia berdasarkan sabda Nabi saw:

“Ibadah umatku yang terbaik adalah membaca Al Quran” (HR. Baihaqi)
Untuk itu, tak ada solusi lain untuk melindungi kemuliaan Al Quran dan melawan arus musuh Islam dalam menjauhkan kaum muslimin darinya,, Tegakkan Syariah dan Khilafah. Wallahualam.

Artikel Terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers