Pages - Menu

Senin, 07 Februari 2011

Subhanallah.. Ummu Hani’ bintu Abi Thalib Al-Hasyimiyyah radhiallahu ‘anha


Dia begitu mengerti tentang agungnya hak seorang suami. Dia pun mengerti tentang hak anak-anak yang ditinggalkan suaminya dalam asuhannya. Dia tak ingin menyia-nyiakan satu pun dari keduanya, hingga dia dapatkan pujian yang begitu mulia, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Dia bernama Fakhitah, seorang wanita dari kalangan bangsawan Quraisy. Putri paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib Abdu Manaf bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay. Ibunya bernama Fathimah bintu Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Dia saudari sekandung ‘Ali, ‘Aqil dan Ja’far, putra-putra Abu Thalib.

Semasa jahiliyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminangnya. Pada saat bersamaan, seorang pemuda bernama Hubairah bin Abi Wahb Al-Makhzumi pun meminangnya pula. Abu Thalib menjatuhkan pilihannya pada Hubairah hingga akhirnya Abu Thalib menikahkan Hubairah dengan putrinya. Dari pernikahan ini, lahirlah putra-putra Hubairah, di antaranya Ja’dah bin Hubairah yang kelak di kemudian hari diangkat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu -ketika menjabat sebagai khalifah- sebagai gubernur di negeri Khurasan. Putra-putra yang lainnya adalah `Amr –yang dulunya Ummu Hani` berkunyah dengannya, namun putranya ini meninggal ketika masih kecil– serta Hani` dan Yusuf.

Namun pada akhirnya, Islam memisahkan mereka berdua. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan negeri Makkah bagi Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manusia berbondong-bondong masuk Islam, Ummu Hani` radhiallahu ‘anha pun berislam bersama yang lainnya. Mendengar berita keislaman Ummu Hani`, Hubairah pun melarikan diri ke Najran.

Pada hari pembukaan negeri Makkah itu, ada dua kerabat suami Ummu Hani` dari Bani Makhzum, Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, datang kepada Ummu Hani` untuk meminta perlindungan. Waktu itu datang pula ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menemui Ummu Hani` sambil mengatakan, “Demi Allah, aku akan membunuh dua orang tadi!” Ummu Hani` pun menutup pintu rumahnya dan bergegas menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah mandi, ditutup oleh putri beliau, Fathimah radhiallahu ‘anha dengan kain. Ummu Hani` pun mengucapkan salam, hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa itu?” “Saya Ummu Hani`, putri Abu Thalib,” jawab Ummu Hani`. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyambutnya, “Marhaban, wahai Ummu Hani`!”

Lalu Ummu Hani` mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedatangan dua kerabat suaminya untuk meminta perlindungan kepadanya sementara ‘Ali berkeinginan membunuh mereka. Maka beliau pun menjawab, “Aku melindungi orang yang ada dalam perlindunganmu dan memberi jaminan keamanan pada orang yang ada dalam jaminan keamananmu.” Usai mandi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat delapan rakaat. Waktu itu adalah waktu dhuha.

Setelah Ummu Hani` berpisah dari suaminya karena keimanan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk meminang Ummu Hani`. Namun dengan halus Ummu Hani` menolak, “Sesungguhnya aku ini seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan perhatian yang menyita banyak waktu. Sementara aku mengetahui betapa besar hak suami. Aku khawatir tidak akan mampu untuk menunaikan hak-hak suami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan niatnya. Beliau mengatakan, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Ummu Hani` radhiallahu ‘anha meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hingga saat ini termaktub dalam Al-Kutubus Sittah. Dia pun menyebarkan ilmu yang telah dia dulang hingga saat akhir kehidupannya, jauh setelah masa khilafah saudaranya, ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, pada tahun ke-50 H. Ummu Hani` Al-Hasyimiyyah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

.::sUarA hAti pArA AkHwaT::. (dari salah satu artikel teman seperjuangan)

ya.. ini tulisan ini tak sengaja Kudapat dari salah satu blog teman seperjuangan. Awalnya sih agak geli ketika melihat judulnya dan membaca secara scanning, tapi setelah menelaah kembali dengan seksama, ternyata isinya general-general saja,

Bagi para agent of change, artikel ini menarik untuk dijadikan bahan muhasabah karena berhubungan dengan pilihan yang sangat penting dalam hidup kita. Moga bermanfaat dan berikut tulisan itu:

SELAMAT MEMBACA...




Apa kabar calon suamiku? Di mana kau sekarang? Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Semoga Allah senantiasa merahmatimu, membimbing, melindungi, dan memayungimu dengan payung hidayah-Nya.

Calon suamiku.......
Setiap usai solat, aku sentiasa berdo’a, agar Allah mempermudah dan meringankan langkah kita untuk menggenapkan dan menyempurnakan dien kita, serta untuk menunaikan satu sunnah Rasul-Nya yang begitu agung dan mulia.

Calon suamiku.......
Secara fizik aku telah lelah mencarimu, tapi batin ini akan tetap setia menunggumu hingga engkau datang menjemputku untuk mengayuh bahtera rumah tangga. Aku yakin engkau akan selalu berusaha untuk menjadi suami yang menjagaku, melindungiku, dan menjadi ayah tauladan bagi anak-anak kita kelak. Aku tahu dalam berumah tanggga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, aku yakin engkau dapat melakukan yang terbaik bagiku dan bagi anak-anak kita nanti. Begitu pula sebaliknya aku akan berusaha menjadi isteri yang membahagiakan suami, menjaga kehormatanmu, hartamu, dan menutupi aibmu. Aku pun akan berusaha menjadi ummu warobatul bait (ibu pengatur rumah tangga).

Calon suamiku.......
Siapa pun engkau, aku berusaha menerimamu baik dan buruknya. Aku yakin apa yang Allah pilihkan untukku itu adalah yang terbaik untukku. Bukankah Dia tidak akan pernah salah dalam memilihkan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa memohon dan meminta pada-Nya.

Calon suamiku.......
Banyak sekali tugas yang akan kita kendong setelah kita berumah tangga nanti. Mendidik dan menjaga anak-anak kita kelak serta keluarga kita untuk menjauh dari api neraka bukanlah tugas yang mudah untuk kita lalui. Dengan kerjasama antara kita, itu akan jauh lebih mudah untuk kita lalui.

Calon suamiku.......
Aku ingin rumah tanga seperti Rasulullah, keluarga yang menjadi tauladan bagi yang lain, yang menjadikan agama sebagai standar utama dalam kehidupan....mungkin ini terlalu muluk....tapi Insya Allah harap jika kita berusaha untuk meninggikan kalimah-Nya dan demi tegaknya Syariah Islam secara kaffah melalui institusi yang diredhai-Nya Daulah Khilafah Islamiyah. Kita akan berusaha berjuang bersama demi Islam dan demi tegaknya Khilafah.

Calon suamiku.......
Betapa mulia dan agungnya Islam itu, sehingga tidak patut bagi kita untuk mengingkari kalimah-Nya. Tiada kemuliaan tanpa Islam, Tak sempurna Islam tanpa Syariah, Tak kan tegak Syariah tanpa Daulah Khilafah Rasyidah.

Dia Wanita Bertangan Panjang


“Ah, saya lebih suka di rumah, mbak, cukup suami saya saja yang bekerja, dan saya terima apa adanya yang diberikan suami, kalo ada uang kita belanja agak banyakan, tapi kalo tidak ada uang kita amalkan shaum sunnah, semua saya terima dengan ikhas, yang penting apa yang diberikan suami saya ke saya didapatkan dari pekerjaan yang halal, yaa tho mbak?“ Bunda Liha termanggut-manggut mendengar ungkapan pasrah, serta terkagum-kagum dengan sikap qonaahnya Bu Sutri, tetangga barunya yang hidup di rumah kontrakan kecil yang sangat sederhana.

Rumah yang bersih dan rapih itu, tak lama kemudian buyar dan sekejab menjadi berantakan ketika ketiga anaknya pulang sekolah dan berebut mainan dan makanan serta saling menyalakan televisi dengan keras yang kemudian salah satunya menangis dengan lengkingan yang cukup dalam karena marah, satu-satunya coklat tango yang tinggal separuh dan sudah melembek, dimakan dengan lahapnya oleh sang kakak. Sekitar 15 menit lamanya sang ibu yang sabar dan lembut mendiamkan anaknya.

Beberapa hari kemudian, ketika bunda Liha sedang menghitung uang infaq taklim ibu-ibu di perumahan kelapa dua, datang bu Surti yang hari itu lagi-lagi terlambat ikut pengajian dengan alasan masih memasak dan mencuci baju dikarenakan sudah 2 hari ini hujan terus menerus yang membuat baju seragam anak-anak yang hanya punya 2 buah menjadi tidak kering. Karena baju yang dimilikinya hanya 2, maka ketika yang satu digunakan untuk sekolah, dan yang satu lagi dicuci, namun bila yang dicuci tidak kering maka baju seragam yang dipakai sekarang akan diangin-anginkan saja agar keringatnya tidak begitu berbau, setelah itu ditaburi bedak agar besok bisa dipakai lagi. Bila 2 hari hujan terus-menerus maka baju kering berikutnya yang sebetulnya masih lembab akan dipakai juga oleh anaknya, dan untuk keperluan itulah maka bu Surti meminjam setrika di rumah bu Liha dan menyetrika baju seragam anaknya dirumah bu Liha.

Rumah Bu Liha tidak terlalu besar, sehingga bila bu Surti datang untuk menyetrika, maka semua buku dan barang-barang dikamar anak gadis Bu Liha segera disingkirkan agar lantai kamar bisa digelar tumpukan kain dan sarung untuk alas strika. Dengan setengah membungkuk Bu Surti menyetrika baju anaknya dengan tekun, dimulai dari satu baju, lama-lama Bu Surti membawa semua baju dan membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menyetrika di rumah Bu Liha.

Tentu saja, selain sedikit mengganggu ketenangan Bu Liha yang terkadang tidak bisa keluar rumah lantaran ada tamu yang sedang menyetrika dirumahnya, juga tagihan listrik menjadi bertambah besar. Belum lagi, ketika masakan Bu Liha sudah selesai dimasak yang jumlah potongan tahu dan ikan sudah disesuaikan dengan anggota keluarganya, namun bu Surti dengan ramah dan akrab membuka tutup makanan sambil memuji harumnya tahu serta menanyakan resep serta bumbu apa yang dipakai. Rasanya tidak enak bila Bu Liha hanya diam saja.

Dengan sedikit terpaksa bu Liha membungkuskan beberapa potong tahu dan 1 bagian jatah ikan kembungnya buat Bu surti. Bu Liha teringat hadist bahwa dengan bersedekah atau memberi maka dia akan mendapat ganjaran 700 kali lipat di surga. Dengan ikhlas, Bu Liha hanya berharap akan mendapat tahu dan ikan kembung disurga yang lebih lezat.

Kedekatan bu Surti semakin bertambah dengan keramahan Bu Liha, dan ketika akhirnya Bu Surti mulai rajin menyambangi meja makannya, ikut mencuci dirumahnya dan menyetrika juga di rumahnya, maka Bu Liha berdoa sungguh-sungguh kepada Allah agar hatinya diberikan kelapangan dan keihlasan yang dalam, walaupun berat tetap dijalankan, namun sebelum pertolongan itu datang.

Sebagai manusia biasa Bu Liha sungguh terganggu dengan persaudaraan yang ditawarkan Bu Surti, yang dengan mudahnya menggunakan banyak fasilitas di rumah Bu Liha sehingga membuat tagihan semakin membangkak. Ibarat kata, bu Liha ikut membiayai sebagian dari pengeluaran rumah tangga Bu surti yang tidak mau bekerja ketika dirasakan gaji suaminya tak cukup untuk membiayai keperluan rumah tangganya.

Maka, salahkah bila wanita bersikap lebih realsitis dengan kebutuhan hidup yang begitu banyak, maka mulailah mencari nafkah dengan berjualan apa saja atau memberikan tenaga untuk membantu pekerjaan rumah orang lain atau membuat es mambo untuk dijual atau menerima jahitan atau perbaikan baju yang kepanjangan seperti permak levis atau membuat kue-kue kering yang bisa dijajakan ke sekolah-sekolah dan atau memasak bihun goreng untuk jajanan anak sekolah dasar serta apa saja yang bisa dilakukan dirumah paling tidak sekedar beras dan listrik dapat dibayar dari hasil kerjanya membantu suami.

Bayangkan, para ibu rumah tangga bila suaminya tiba-tiba mengalami kecelakan kerja (nausdzubillah min dzalik) atau tiba-tiba dipanggil yang maha kuasa atau dikarenakan sebab lain, pergi meninggalkan istrinya dan keluarganya. Apakah sang istri harus meminta-minta belas kasihan para tetangga.

Karena itu selagi masih dalam keadan kuat, berusahalah mencari pendapatan walau sedikit, paling tidak bila sudah tecukupi semua kebutuhan, kita dapat menggunakannya untuk bersedekah dengan uang hasil jerih payah kita sendiri,

Mari mencontoh Bunda Zainab, wanita yang tangannya paling panjang karena beliau didapati bekerja dengan jerih payahnya lalu beliau besedekah, subhanallah sikap istri seorang pemimpin besar yang jarang ada pada zaman apapun.

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.

Bahwa Rasulullah saw. ketika berada di atas mimbar, beliau menuturkan tentang sedekah dan menjaga diri dari meminta. Beliau bersabda: Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah yang memberi dan yang di bawah adalah yang meminta. (Shahih Muslim No.1715)

Hadis riwayat Hakim bin Hizam ra.

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sedekah yang paling utama atau sedekah yang paling baik adalah sedekah dari harta yang cukup. Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Mulailah dari orang yang engkau tanggung (nafkahnya). (Shahih Muslim No.1716)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Kaya itu bukanlah lantaran banyak harta. Tetapi, kaya itu adalah kaya hati. (Shahih Muslim No.1741)

Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, "Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?" Nabi Saw menjawab, "Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh." Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?" Nabi menjawab: "Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya" Mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?" Nabi menjawab: "Menyuruh berbuat ma'ruf." Mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?" Nabi Saw menjawab, "Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh." (HR. Bukhari dan Muslim)

ohh.. Muslimah muslimah...


Bekerja adalah mubah atawa boleh. Seorang istri boleh bekerja atas seijin suami atau walinya bagi yang belum menikah tentunya.Selama tempat bekerjanya sesuai syara, pekerjaannya tidak melanggar syara dan dia dapat menjaga kehormatan diri dan kehormatan suami dan tidak melanggar syariat. Menutup aurat, dan tidak ikhtilat(berdua-duaan/menyepi-nyepi diri dengan laki-laki asing yang bukan mahromnya). Suatu yang boleh, berarti pilihan, mau bekerja atau tidak itu adalah pilihan....tidak lantas jadi haram, tetap dalam kebolehannya.Syariat Islam membolehkan wanita untuk berniaga, berjual beli, berinteraksi, menghadiri majlis-majlis ilmu, bahkan pada masa rosul banyak para wanita yang menjadi pejuang- pejuang Islam,ikut berjihad/berperang dan berhijrah, menjadi penyampai hadis seperti Ummul mukminin Aisah RA, Asma binti Abu Bakar yang melakukan tugas suci menyampaikan sembako(makanan)ke dalam gua ketika Baginda Rosul dan Sahabat Abu Bakar Assiddik, bersembunyi menuju Medinah untuk berhijrah. Zaman Rosulullah banyak pula wanita yang keluar rumah untuk shalat di mesjid dan mengkaji ilmu-ilmu Islam di luar rumahnya.Tapi tugas utama sebagai seorang ibu yaitu Ummu warobatul bait tidak boleh dia sepelekan, dan lalaikan.Wajib itu!! Sebagai ibu mendidik, mengarahkan anak2nya, memahamkan halal dan haram, memahamkan Islam dan menjaga Imannya, sebagai Istri menunaikan tugasnya, menyiapkan makanan, melayani dengan ikhlas....berjuang untuk kejayaan Islam juga menjadi tugasnya, berdakwah menyebarkan Islam juga kewajibannya dimanapun dia beraktifitas...eh kalau boleh memilih saya sebenarnya lebih mau tinggal di rumah dan berdakwah 100% (bukan sisa-sisa waktu),doakan semoga Allah memberikan jalan yang terbaik menurut Allah dan ridhonya. Tapi saya ingin ilmu yang saya peroleh dapat bermanfaat(ketika saya memutuskan untuk bekerja dulu), saya memohon petunjuk Allah. dan sampai saat ini saya masih bekerja. Semoga tidak menjadi fitnah dan dosa bagi saya karena saya bekerja seijin suami dan wali. Juga bisa menjaga diri.Alhamdulillah

Artikel Terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers