Pages - Menu

Rabu, 06 Mei 2020

Puasa Pertama Kakak Fahmi | Ramadhan Day 1


Puasa kakak dihari pertama. Alhamdulillaah sahur bersama dengan menu sederhana. Sempat tergoda ketika melihat para adik yang menyantap lahap sarapan dan makan siang. Sempat nangis yang membuat saya mengevaluasi tentang penancapan tsaqofah terkait dengan bulan suci ramadhan dan keutamaannya.
.
.
Pelukan hangat dan banyak penjelasan diberikan. Cari referensi bersama di perpustakaan keluarga kecil kami. Alhamdulillaah juga terbantu dengan e-book pdf "fiqih puasa untuk anak" yg telah didownload sebelumnya berikut guideline lainnya yg telah disiapkan. Diperkuat video-video yang ada di youtube seputar ibadah puasa. Finally, laparnyapun hilang, hatinya kembali tenang, dan happy melanjutkan ibadahnya.
.
.
Tapi, tak selesai sampai disitu. Godaan kembali datang dan ingat ketika masa Rasulullaah dahulu, ketika anak-anak dibiasakan puasa, ketika mereka merasakan lapar, maka para ibu telah siap dengan permainan dan pendampingan. Diperlihatkan potret kelaparan yg melanda para penduduk bumi. Menimbulkan rasa syukur. Si kakakpun kembali berusaha sabar hingga akhirnya tertidur setelah asar dan bangun menjelang buka puasa.
.
.
Rasa lapar sudah memuncak, pas pertanyaan sudah mulai digencarkan lagi, tiba-tiba senandung bacaan mnjelang buka puasa terdengar dari stasiun RRI, akhirnya si kakak pun bisa berbuka puasa, melahap pisang goreng dan susu coklat hangatnya dengan hati penuh suka cita. 
Alhamdulillaah.
.
.
Saya salut. Ingat dulu saya baru mampu berpuasa kira-kira kelas 4 atau 5 SD. Anak-anak sekarang kuat-kuat, masyaAllaah. Bahkan ada yang usia 4 tahun sudah bisa puasa Full. InsyaAllaah, akan menjadi cahaya mata bagi orang tua, aamiin.
.
.
#SerbaSerbiRamadhan01
#SambutRamadhanKita
#Ramadhan1441H




Ramadhan 2020, Stay at Home - Stay Safe 👍😉


Ramadhan kembali hadir menerangi hari-hari kaum muslimin. Semaraknya yang begitu dirindukan. walaupun ditengah pandemi covid 19 yang mendunia. Ramadhan yang sungguh unik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
.
.
Namun, tak perlu berlama-lama bersedih hati. Cukup gencarkan saja muhasabah, bahwa manusia tak ada apa-apanya. Hanya Allah SWT Yang Maha Besar. Sungguh begitu banyak hikmah dibalik ujian wabah ini bagi penduduk bumi. Semoga segera berakhir dan digantikan dengan yang lebih baik.
.
.
Marhaban yaa Ramadhan..
Kerinduan kami padamu begitu dalam,
Janganlah cepat pergi,
Tetaplah disini bersama kami...


Selasa, 04 September 2018

Ada Allah dibalik Rinainya air mata, kuatlah.





Dua bulan setelah pernikahan kami, alhamdulillaah kami segera diberikan rezeki oleh Allaah SWT, telah bersemayam janin dalam rahimku. Sebuah kesyukuran yang tak terhingga ketika memilikinya. Allaah telah menitipkan hadiah besar dan amanah untuk kujaga.  Bagiku ini adalah pengalaman pertama. Senangnya minta ampun. Kututup mata sambil ku elus perut ini, “kita akan berjuang bersama, nak”

Masuk bulan ke dua, aku sudah mengalami ngidam. Bulan ke tiga, ngidamnya bertambah berat. Aku mual-mual dan muntah yang bercampur dengan darah, mungkin karena keseringan muntah. Nutrisi yang masuk hanya dari sari kurma dan bubur. Makanan kesukaanpun jadi tak kusenangi. Bingung mau makan apa. Aku tak berselera makan dan berat badanku pun turun hingga 8 kilo. Hingga usia pertengahan 3 bulan, aku sudah mulai enakan. Sudah mulai beraktivitas. Memaksanya karena selalu teringat amanah. Yang sebelumnya aku diurusi ibu, kemudian sudah bisa kembali lagi kerumah, alhamdulillaah.

Saat kehamilan pertamaku, banyak pengalaman emosional. Selain merasa ngidam terus selama kehamilan, ada pula kejadian yang sedih dalam hidupku. Diusia janin 5 bulan, aku harus mendampingi bapak yang sedang sakit. Mengantarnya kerumah sakit dan melayani segala keperluannya. Hingga diakhir bulan ke 5, bapakpun harus pergi duluan kembali kepada Sang Pencipta. Dalam kondisi seperti itu, saya mengalami kesedihan yang mendalam. anak yang mana tak sedih ketika kehilangan orang tuanya.Tetapi aku terus mencoba tetap tegar dan kuat menerima semua takdir Allaah.

Setelah bapak wafat, kesedihan dan kisah terakhir bersamanya selalu terngiang dalam ingatan. Yang paling teringat adalah saat dimana aku mengurusinya di kamar saat sakit keras dan beliau memintaku untuk merapihkan kuku kakinya, menyuapinya, memapahnya ke kamar kecil, dan mengurutnya perlahan. Semua memoar sedih itu kualami saat sedang mengandung. Sepeninggal beliau, aku merasa pincang. Galau. Tengah malam terbangun dan menangis karena merindukannya. Hingga, secara tak kusadari aku menjadi orang yang mudah cemas dan sensitif. Satu hal, saat itu tak ada yang tau mengenai kondisi psikologisku ini kecuali aku dan Allaah.

Kalau diungkapkan mungkin aku saat itu mengalami gangguan kecemasan. Entahlah, apakah termasuk syndrome baby blues karena aku tidak punya banyak maklumat mengenai gangguan tersebut, melainkan apa yang aku rasakan saja. Jadinya aku hanya menganggapnya hal yang biasa dan ku kembalikan pada pemahaman Islam saja. Tawakkal illallaah, Allaah pasti memberikan jalan keluar. Itu saja dalam pikiranku. Lihat apa masalahnya, Islam pasti punya solusi. Saya banyak beristighfar, berdzikir, berdoa, beraktivitas, berkumpul bersama keluarga dan teman-teman karena aku senang bergaul, meski tak bisa dipungkiri saat aku sendiri dan saat ingatan itu harus dipanggil, perasaan sedih itu akan hadir kembali. Jujur, memang butuh perjuangan besar. Yang kupikirkan, aku adalah pengemban dakwah, seorang pejuang Khilafah, harus bisa kuat!. saat mengisi pengajian, banyak pembahasan yang mengarah pada masalahku. saat itulah aku kembali kuat dan semakin kuat. recovery.

 Anak mungil lucu itupun lahir dengan proses caesar dan berberat badan 3,3 kg. Alhamdulillaah, dia sehat. Saat ini dia sudah menginjak usia 5 tahun. Tak terasanya waktu. Dalam perkembangannya dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar, meski memiliki karakter sebagai anak yang sensitif, hatinya mudah tersentuh, mudah khawatir, dan memiliki kewaspadaan yang tinggi. Bawaan saat kehamilan dulu. Maka belajar dari pengalaman inilah di kehamilanku yang kedua, aku berusaha menjaga hati dan pikiranku.

Begitulah efek dari sebuah pemikiran. Seperti apa yang termaktub dalam kitan nizhom al Islam karya Syaikh Taqiyuddin an Nabhani bahwa perilaku manusia itu tergantung pada persepsinya terhadap sesuatu. Baagi seorang ibu hamil, kekuatan pemikiran ini begitu penting karena ia akan mndidik anaknya sedari dalam kandungan. Maka tak heran pula Allaah akan memberikan pahala yang sanat besar bagi sesiapa yang mnyenangkan hati ibu yang sedang hamil. Ternyata perjuangan seorang ibu itu luar biasa karena ditengah lelah letihnya mengandung dan meski diterjang oleh cobaan, ianya harus menjaga hati dan pikirannya. Yang terpenting adalah ikhlas dan sabar pada segala ketentuan Allaah SWT. Di setiap masalah, ingatlah bahwa ada Allaah yang senantiasa menemani. Berkumpullah bersama orang-orang sholih karena komponen penting untuk meraih sebuah kebahagiaan adalah ketika kita saling mengingatkan di Jalan Allaah SWT. 

semoga bermanfaat.


#PR1 #1011
#NgajiLiterasi (Inisiasi)
#CatatanCintaUmmi


Rabu, 11 Juli 2018

Silent is Always Gold?



Hal apa saja yang membuat kita terdiam?.   Tak bersuara. Senyap. Ya, tentunya alasannya beragam ya. Ada yang diam karena lagi mikir, karena takut salah, karena khawatir berkata kotor mungkin, diam karena emosi yang membuncah atau sedih. Pokoknya macam-macamlah.

Nah, Untuk sebagian konteks fakta seperti khawatir kalau sekalinya berbicara akan tidak terkendali atau malah berucap tak berarti yang tak dibutuhkan sang pendengar, maka diam disini terkategori seperti kata pepatah: "silent is gold", "diam adalah emas". Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Namun bilamana diam itu tak lagi menjadi emas?. Tak tepat jika dilakukan. Istilahnya mah "salah tingkah" gitu. Emang ada?  Ya adalah.  Diam jenis ini bukannya jadi berkah tapi malah membawa petaka 😱😨.

Zaman now, kita diserbu dengan fenomena ketika keharaman dianggap lumrah. Sebaliknya, kehalalan dianggap tabu dan kolot. Zaman terbolak balik. Agama dianggap masalah, bahkan ada kalangan yang hanya menganggapnya candu. Muncul ke permukaan dan menebarkan kekosongan pada jiwa. Berandil membungkam Islam. Memecah suara. Berceloteh riang diatas pelecehan agama. Mirisnya, banyak generasi muda mengamininya.

Ketika muslim Suriah, Patani, Rohingya, Xin Jiang, Palestina, Pakistan, uzbekistan, dll dirundung duka mendalam. Didzolimi bagai tak berujung.  Mereka jangankan berdoa, justru menebar kata yang mengiris: "udah, nggak usah ngurusin orang lain. Urusan negara kita aja segunung". Hati nurani tergilas sudah.   Berujung diam Membiarkan kejahatan. Seakan nyawa tak ada harganya. Seakan jeritan tak ada artinya. Seakan mulut tak ada gunanya.

ketika nasional menjerit harga barang mahal. Kemiskinan bertambah. Potret dunia pendidikan suram. Persekusi ulama. Mereka berkata: "biarkanlah opini itu bertebaran, hanyalah omong doank. Kita urus saja urusan kita masing-masing". "lebih baik kerja",  seakan opini tak bekerja. Lalu dari mana cikal bakal perubahan kalau bukan dari opini?. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”(HR. Bukhari)

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Kekuatan opini itu dahsyat. Opini dakwah terkait solusi Islam kaaffaah, Amar ma'ruf nahyi mungkar, itu maksud saya. Tapi, bukan opini sesat menyesatkan seperti punya Islam nusantara. Big no no alias amit-amit 😝.

Jika dakwah itu hanyalah omongan doank, tak mungkin kafir Quraisy bereaksi sedemikian paniknya kalau bukan karena kekuatan opini dakwah Rasulullaah SAW bersama para sahabat ra. menghantui"singgasana" mereka. Satu kalimat syahadat saja membuat mereka hingga mengerahkan segenap daya dan upaya.  Hingga Islam membebaskan kota Makkah dari belenggu kesesatan.

Walhasil, diam itu seperti dua mata pisau. Maka kenalilah diam berkah dan diam petaka. Agar selamat dunia akhirat.

Dengan segala keterbatasan, Semoga tulisan ini bermanfaat. 😊

#WCWHBatch2

Artikel Terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers