Rabu, 11 Juli 2018
Silent is Always Gold?
Hal apa saja yang membuat kita terdiam?. Tak bersuara. Senyap. Ya, tentunya alasannya beragam ya. Ada yang diam karena lagi mikir, karena takut salah, karena khawatir berkata kotor mungkin, diam karena emosi yang membuncah atau sedih. Pokoknya macam-macamlah.
Nah, Untuk sebagian konteks fakta seperti khawatir kalau sekalinya berbicara akan tidak terkendali atau malah berucap tak berarti yang tak dibutuhkan sang pendengar, maka diam disini terkategori seperti kata pepatah: "silent is gold", "diam adalah emas". Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”
Namun bilamana diam itu tak lagi menjadi emas?. Tak tepat jika dilakukan. Istilahnya mah "salah tingkah" gitu. Emang ada? Ya adalah. Diam jenis ini bukannya jadi berkah tapi malah membawa petaka 😱😨.
Zaman now, kita diserbu dengan fenomena ketika keharaman dianggap lumrah. Sebaliknya, kehalalan dianggap tabu dan kolot. Zaman terbolak balik. Agama dianggap masalah, bahkan ada kalangan yang hanya menganggapnya candu. Muncul ke permukaan dan menebarkan kekosongan pada jiwa. Berandil membungkam Islam. Memecah suara. Berceloteh riang diatas pelecehan agama. Mirisnya, banyak generasi muda mengamininya.
Ketika muslim Suriah, Patani, Rohingya, Xin Jiang, Palestina, Pakistan, uzbekistan, dll dirundung duka mendalam. Didzolimi bagai tak berujung. Mereka jangankan berdoa, justru menebar kata yang mengiris: "udah, nggak usah ngurusin orang lain. Urusan negara kita aja segunung". Hati nurani tergilas sudah. Berujung diam Membiarkan kejahatan. Seakan nyawa tak ada harganya. Seakan jeritan tak ada artinya. Seakan mulut tak ada gunanya.
ketika nasional menjerit harga barang mahal. Kemiskinan bertambah. Potret dunia pendidikan suram. Persekusi ulama. Mereka berkata: "biarkanlah opini itu bertebaran, hanyalah omong doank. Kita urus saja urusan kita masing-masing". "lebih baik kerja", seakan opini tak bekerja. Lalu dari mana cikal bakal perubahan kalau bukan dari opini?. Rasulullah saw bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”(HR. Bukhari)
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Kekuatan opini itu dahsyat. Opini dakwah terkait solusi Islam kaaffaah, Amar ma'ruf nahyi mungkar, itu maksud saya. Tapi, bukan opini sesat menyesatkan seperti punya Islam nusantara. Big no no alias amit-amit 😝.
Jika dakwah itu hanyalah omongan doank, tak mungkin kafir Quraisy bereaksi sedemikian paniknya kalau bukan karena kekuatan opini dakwah Rasulullaah SAW bersama para sahabat ra. menghantui"singgasana" mereka. Satu kalimat syahadat saja membuat mereka hingga mengerahkan segenap daya dan upaya. Hingga Islam membebaskan kota Makkah dari belenggu kesesatan.
Walhasil, diam itu seperti dua mata pisau. Maka kenalilah diam berkah dan diam petaka. Agar selamat dunia akhirat.
Dengan segala keterbatasan, Semoga tulisan ini bermanfaat. 😊
#WCWHBatch2
Senin, 21 Mei 2018
Duhai Muslimah bercadarku, Kekasihku
Begitu sedihnya melihat sodara2 kami yang bercadar dinodai, dibentuk opininya kemudian diidentikkan bahkan dikatakan teroris. Dan sungguh hal itu adalah sebuah fitnahh yang sangat besar dan tentu keji. Sekalipun saya sendiri tak bercadar, tapi saya tetap menghormati mereka muslimah yang bercadar, tentupun saya berdoa agar mereka tetap kuat dan malah semakin kuat dengan kejadian ini. Kitapun bukan bercerai bercerai tetapi makin bersatu. Kedamaian, itulah yang kita cari bukan?
Melihat tayangan film AADC alias Ada Apa Dengan Cadar (*bukan Ada Apa Dengan Cinta lho ya 😊).. Sedih yang selama ini terkumpul akhirnya jafi air mata yang tumpah tak terbendung. Terisak dengan nafas yang berat. Ingin juga rasanya memelukmu duhai muslimah bercadarku, kekasihku.
Saya mempunyai banyak teman bercadar, sekalipun kita berbeda komunitas, saya tetap menyayangi mereka. Adapun perbedaan adalah hal yang biasa. Dan Jika saja kita mempunyai payung yang sama dibawah naungan Islam, maka peebedaan itu akan menjadi rahmat bagi kita semua. Rasulullaah SAW bersabda:
"لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri [HR. Bukhâri dan Muslim]
Cobaan keisitiqomahan adalah keniscayaan dalam dunia dakwah. Sirah Rasulullah SAW beserta para sahabat ra telah mencontohkan bagaimana mengelola cobaan menjadi sesuatu yang menguntungkan diakhirat kelak. Memanglah tidak mudah. Kita harus berkorban segalanya mulai dari perasaan, harta, tenaga, hingga nyawa sekalipun. Dan yang membuktikan adalah diri kita sendiri. Tugas kita adalah saling menguatkan dan mengingatkan dalam kesabaran. We are not alone dan kita akan bermuara pada tempat yang sama, yaumul hisab di akhirat kelak. Allaah SWT berfirman:
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]
Semoga kita semua dapat bersabar dan istiqomah hingga akhir hayat, aamiin.
Kamis, 17 Mei 2018
Khadijah ra., Wanita Istimewa Pendukung Dakwah
Muslimah istimewa yang lembut dan kuat itu bernama Khadijah binti Khuwailid ibn Asad ibn Abdul Uzza ibn Qushai ibn Kilab. Seorang wanita terhormat, bijaksana, lagi cerdas. Tak hanya kaya raya, beliau juga menjadi pujaan para lelaki lantaran kagum terhadap sosok dirinya, dan akhirnya takdir Allaah beliaupun menjadi pendamping hidup penghulu para nabi, Muhammad SAW.
Ketika Rasulullah mengasingkan diri di Gua Hira, Khadijah tak mengeluh dan sabar menantikan suaminya. Beratnya massa dakwah pada saat itu, tidak sedikitpun bergeming meninggalkan suaminya, justru menjadi pendukung dakwah yang tangguh. menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan oleh Rasulullaah SAW dan membela kepentingan Islam. Perannya sangatlah besar. Beliau tidak segan-segan mengorbankan harta dan jiwanya untuk dinnul Islam. Tak heran beliau memiliki kedudukan yang mulia di hati Rasulullah SAW. Khadijah sangat mnghormati suaminya meski berusia lebih muda darinya.
Khadijah melahirkan generasi-generasi tangguh dan menjadi madrasah pertama yang perkasa.
Semoga bisa menjadi pelajaran penting dan muhasabah bagi semua muslimah dan terkhusus saya.
Jeli melihat akar masalah dan solusi
Dan menurut mereka berdua dan orang2 sepandangan, solusinya adalah mengesahkan RUU terorisme.
Kalo saya bilang sih, solusinya adalah #KhilafahAjaranIslam.
Mari buka al Quran, lihat QS. An Nur: 55
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون
Artinya:
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nur:55)
Imam Ahmad meriwayatkan:
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
Telah berkata kepada kami Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy; di mana ia berkata, “Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, “Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khuthbah Nabi saw.”Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”.(HR. Imam Ahmad)
Jadi, sudah menjadi fase dunia ini bahwa Allaah pasti akan mengokohkan Dinnul Islam, dimana pada waktu itu dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kelaliman dan kezaliman. Pada masa itu umat manusia merasakan nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumbya; bumi mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, langit menurunkan hujan, dan memberikan penghasilan (kekayaan) yang tak terhitung banyaknya. (yaumul qiyamah pasal 1 bab al mahdi hal. 245, oleh Yusuf al Wabil, MA., Qisthy Press)
Ibnu katsir rahimahullah berkata, "pada waktu itu banyak buah-buahan, tanam-tanaman subur, harta melimpah, kekuasaan berjalan dengan baik, agama berdiri tegak, permusuhan sirna, dan kebaikan bersemarak. " (An-Nihayah Fil-Fatan wal-Malahin 1:31 dengan tahqiq DR. Thaha Zaini)
#IslamRahmatanLilAlamin
#HTILAnjutkanPerjuangan
#DakwahTanpaKekerasan
#KhilafahJanjiAllah
#KhilafatanAlaMinhajiNubuwwah
َ
Kalo saya bilang sih, solusinya adalah #KhilafahAjaranIslam.
Mari buka al Quran, lihat QS. An Nur: 55
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون
Artinya:
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nur:55)
Imam Ahmad meriwayatkan:
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
Telah berkata kepada kami Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy; di mana ia berkata, “Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, “Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khuthbah Nabi saw.”Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”.(HR. Imam Ahmad)
Jadi, sudah menjadi fase dunia ini bahwa Allaah pasti akan mengokohkan Dinnul Islam, dimana pada waktu itu dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kelaliman dan kezaliman. Pada masa itu umat manusia merasakan nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumbya; bumi mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, langit menurunkan hujan, dan memberikan penghasilan (kekayaan) yang tak terhitung banyaknya. (yaumul qiyamah pasal 1 bab al mahdi hal. 245, oleh Yusuf al Wabil, MA., Qisthy Press)
Ibnu katsir rahimahullah berkata, "pada waktu itu banyak buah-buahan, tanam-tanaman subur, harta melimpah, kekuasaan berjalan dengan baik, agama berdiri tegak, permusuhan sirna, dan kebaikan bersemarak. " (An-Nihayah Fil-Fatan wal-Malahin 1:31 dengan tahqiq DR. Thaha Zaini)
#IslamRahmatanLilAlamin
#HTILAnjutkanPerjuangan
#DakwahTanpaKekerasan
#KhilafahJanjiAllah
#KhilafatanAlaMinhajiNubuwwah
َ
Langganan:
Postingan (Atom)



