Jumat, 17 Desember 2010
Rabu, 08 Desember 2010
MyCHAPTER
Ini baru dasar masa depan. Aku hanya bisa berpositif thinking saat itu ketika gagal masuk dalam jurusan yang kuidam-idamkan selama bertahun-tahun, menjadi seorang dokter hewan yang hebat. No, it’s true!. Yang kurasakan saat itu, apakah aku harus berduka ataukah bersuka cita?. Paling tidak, kupikir, masalahnya adalah bukannya aku tidak mampu, tapi inilah yang terbaik dari Allah swt untukku. Dunia itu berputar. Aku hanya harus melanjutkan hidupku. Mencari yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Karena Hidup punya tujuan. Ibadah. “I’ve get little faith in me..”. Aku tidak ingin masa kekosongan melanda hidupku.
Urutan ke dua adalah menekuni sesuatu yang kurasa nyaman. Bahasa. Ya, pilihanku adalah jurusan bahasa Inggris. Akhirnya aku pun bebas test ke jurusan itu di universitas lokal di kotaku. Awalnya ku tak pernah menyangka akan menjadi seorang guru. Sempat membuatku bingung dan merasa kecil. Tapi, setelah mengetahui posisi guru dalam sejarah dan Islam, belum lagi aku melihat materi-materi yang dicantumkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia yang disusupi oleh pemikiran-pemikiran barat yang busuk, aku dengan tegas dan bangga mengatakan dalam hatiku, “I have to be a great teacher ever!!”
Setelah lulus kuliah S1, ayah menyuruhku untuk melanjutkan keahlian itu ke jenjang S2. Aku tak heran mengapa ayah sangat ingin melihatku sekolah yang tinggi. Membunuh semua rasa pesimis tentang hal-hal yang bisa merangkul kegagalan. Tak lain karena ia pun berasal dari keluarga pelajar. Gemar belajar dan berjuang keras untuk pendidikan. Lain dengan ibu yang berani. Karena ia berasal dari keluarga pedagang. Selalu punya ide dan ahli dalam berstrategi. Ia lebih berambisi menjadikan anak-anaknya menjadi manusia berakhlak baik demi kehidupan selanjutnya. Baginya, jihad sebagai istri dirumah lebih mulia daripada mempertahankan eksistensi diri diluar rumah yang beresiko terhadap unsure kebahagiaan keluarga. Kalaupun bekerja, hal itu bukanlah sesuatu yang harus di utamakan. “Karena kita adalah perempuan, dan agama Islam mengatur itu, jangan jauh. Kau hanya ingin membantu suamimu bukan? Menjadi guru dan pedagang tidak akan banyak menyita waktumu pada sesuatu yang dapat melalaikan jihadmu” katanya. Dimataku, ibu berhasil dengan ambisinya itu. Seorang teman pernah menasehatiku “keuntungan saat berproses dalam mencari nafkah adalah dengan menjaga nilai-nilai perilaku kita. Uang bukanlah hal yang harus selalu dipikirkan, karena Allah Mahatahu kebutuhan kita, kita tidak akan terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tetapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani. Keep istiqomah!”. Impian itu adalah apa-apa yang dibenarkan dalam Islam.
Kodenya adalah “F.O.K.U.S”, fokus. Ada lusinan keinginan , tapi yang bisa menarik itu semua menjadi keberhasilan adalah fokus. Halaman harus terus dibuka. Bergerak melihat kegagalan menjadi sesuatu yang mencerahkan untuk kedepannya. Sampai pada episode akhir bahwa kau hebat dalam memainkan kartu. Dan patung tidak bisa bermain kartu. Dan dakwah Islam perlu pengorbanan yang tidak biasa tetapi luar biasa. Bagaimana bisa bertempur kalau tidak punya senjata dan keahlian dalam bertempur. Al Qur’an dan al Hadits adalah panduan, layaknya peta. Kau harus mempelajarinya untuk menemukan harta karun, karena kalau tidak sesuai petunjuk, akan keliru bahkan tersesat. Dan Islam adalah ideologi dengan peta yang paling terstruktur. Ia unggul dan sempurna. Dan lahan yang kering akan subur ketika ada yang mau mengolahnya dengan cara yang benar. Rasulullah tidak mengajarkan kemungkaran.
Jumat, 26 November 2010
Suatu saat Kau cabut nyawa hamba dari raga ini
Selasa, 16 November 2010
Segala Puji hanya milik Allah swt
Sabtu, 02 Oktober 2010
My Thesis Acknowledgement
The grateful thanks I address to my beloved consultants Drs. Amri Tanduklangi, M.lis as my first consultant and Dra. Lelly Suhartini, M.Hum as my second consultant who have given me the best things; guidance, valuable advice, motivation, and correction during finishing my thesis.
The heart fully thanks also I address for:
1. Prof. Dr. Ir Usman Rianse, M.S. as the Rector of Haluoleo University.
2. Drs. H. Barlian, M.Pd as the Dean of Education of Haluoleo University.
3. Drs. La Yani Konisi, M.Hum as the Head of Language and Arts Department of
Teacher Training and Education Faculty of Haluoleo University.
4. Dra. Lelly Suhartini, M.Hum as the Secretary of Language and Arts Department
Teacher Training and Education Faculty of Haluoleo University.
5. La Aso, S.Pd, M.Hum as the Head of English Study Program
6. All of my lecturers in English Department. Thanks for any wonderful
knowledge you’ve transferred.
7. Ibu Ati as the staff of English Study Program, thank you so much for your
kindness.
My grateful thanks also I address for my beloved Mom and Dad, H. Laode Syaefuddin, SE., M,sc. And Hj. Hasriany P. who always give me the best support (morale and material) and the everlasting love and pray. My lovely brothers: Qomar Arief Madi, S,P and Qomarullah Madi, A,Md. also My beloved sisters; Riski Amalia Madi, SE., M,Ba. Your love makes me strong.
Jazakallah khairan katsiran for my brothers and sisters in LDK-BKLDM and Muslimah Hizb ut Tahrir Indonesia Unhalu who always given me many inspiration and motivation as long as I do this thesis. Keep spirit and istiqomah in dawwa because Khilafah is Allah swt’s promise, so just stick to it. Besides that, many thanks for Syeikh Taqiuddin an Nabhani, his thought and books give many contribution to my life and for the Moslems ummah, May Allah swt bless you.
Many thanks also address for all brilliant friends in English Department 2004 and my B_Gank (Mba Gida “Ummu Faiz”, Ririn “Green”, Aminah “Eminem”, Diah “Nope”, Ozh “ndut tea”, Risma Uky “Ummu Pixie“, Ceceng “gesit”, Daniel “Xui Ya”, Uchul “Ereke”, Idul “Jadul”), Thanks for everything and good luck for all. Especially to my lovely bestfriend, Aminah Maulidah Nugraha Silawati, S.Pd., thanks for your support, motivation, helps, jokes, advice, and your kindness for almost 19 years, I love you my dear.
The researcher realized that this thesis may need some improvement to be a perfect form. Therefore, the writer will appreciate every suggestion and critic given from the readers.
Kendari
The Writer
Kamis, 30 September 2010
in the mood to Syawal

Tinggal beberapa hari lagi bulan syawal akan berakhir. Moga masih bisa mencukupkannya sekalipun badan lagi tidak fit, tapi tetaplah semangat menjemput keebaikan yang nilainya tinggi… bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian, istrahatnya nanti aj deh ^_^, sebagaimana firman Allah swt:
“Sabar adalah salah satu harta simpanan di antara simpanan-simpanan yang disediakan di surga” (HR. Abi Syaibah)
kesedihan ditinggalkan Ramadhan
Subhanallah… Takbir berkumandang dari segala penjuru masjid, menambah kerinduan akan Ramadhan di tahun depan lagi… hatipun berharap sangat “ semoga masih bisa ‘mencicipi’ Ramadhan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya lagi, amin yaa Rabb”.. rasa-rasanya tak ada harapan lebih indah dihari itu selain harapan akan menjadi seseorang yang lebih baik di kemudian hari… demi ummat, demi kejayaan Islam, Khilafah. Moga kebaikan-kebaikan yang di perbuat selama Ramadhan terus meningkat sampai Ramdhan berikutnya… dan begitu seterusnya, Moga Istiqomah hingga tidak sampai dirusak oleh sifat riya’ ataupun pamrih… amin yaa Rabbal alamin….
SMS ketulusan penutup lebaranpun berdatangan… semua menyatakan, pada rindu dengan kehadiran Ramadhan.. hmh sayangnya, Ramadhan mang hanya sebulan dalam setaun… bulan penuh ampunan, bulan penuh keberkahan, bulan yang dinanti-nanti....
Ketika melihat kelangit sewaktu selesai sholat isha sambil bebaring sejenak dengan membuka jendela tuk mengirup udara segar malam kendari, kembang api yang biasanya ngebetein, serasa nikmat ketika itu ..
“cahaya kembang api itu indah, indah sekali.. Subhanallah.. cahayaNya pasti lebih indah.. SurgaNya…. Ah Indah, indah sekali…..”
Lalu perlahan kututup mata dan hati ini pun tenang…. Tenang sekali, kutarik nafas ini dalam-dalam hingga udara memenuhi paru-paruQ, kupanjatkan kerinduanku yang menggebu… “ oh.. surgaMu yaa Allah. yaa Rasulullah, para Nabi, para shahabat, para Syuhada, para Mujahid, dan para bidadari……. insyaAllah”….. hingga ada kata-kata yang seketika timbul dalam benakku “ maukah kau? Maka raihlah, berkorbanlah, dan jangan jadi muslimah yang manja! Karena orang Islam itu dilahirkan untuk menjadi kuat dan siap menhadapi tantangan di segala
Lalu dengan sekejap ku buka mata dan kutatap langit2 kamarku yang putih… “apakah “seputih” ini??... ataukah penuh noda?” .. Ampunilah aku yaa Allah.. jadikanlah kami sebagai manusia yang senantiasa menyadari ketika bermaksiat kepadaMu agar kami menjadi orang yang senatiasa melindungi diri, sabar, dan bersyukur atas kelebihan maupun kekurangan… Ikhlas serta tabah menjalani jalan dakwah yang seperti menggenggam bara api ini..
“dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar” (an-Nahl: 96)
Sabtu, 11 Juli 2009
betapa senangnya menjadi pengemban dakwah
Aslwrwb.Sebagian mungkin menilai menjadi seorang pengemban dakwah itu membosankan, ngga asik, ato malah menilai bahwa menjadi pengemban dakwah akan menjauhkan seseorang dari kebahagiaan. saya jadi teringat sewaktu berdiskusi dengan seorang teman dekat, yang saat itu saya sangat mengharapkan dia dapat menerima ide-ide yang saya sampaikan. Awalnya dia sangatlah antusias, tetapi setelah dikatakan kepdanya agar ikut berjuang bersama dan menuntut ilmu, dia menjawab bahwa dia bukanlah seorang pejuang, biarlah perjuangan itu kalian yang lakukan, biarlah saya bergerak pada saat yang tepat ketika bom-bom itu sudah ada di depan mataQ.
Padahal, ketika kita memeluk agama Islam maka kita sebernarnya adalah seorang pejuang. Amar ma'rif nahi mungkar. Kita semua punya kewajiban untuk berdakwah. dan bagi orang-orang yang peduli terhadap kewajiban-kewajibannya, konsekuensi dia bersyahadat, dan terhadap saudanya semuslimlah makanya dia memilih untuk menjadi pengemban dakwah.
"kami dengar dan kami taati"
dunia ini... terdiri dari cobaan, seleksi, dan pengukuhan. semua adalah bagian dari pembinaan kepribadian diri. pertanyaannya adalah bagaimana kita melalui semua itu yang memang merupakan sunatullah?? jawabannya adalah tidak lain mengasah pola pikir dan pola sikap kita dengan cara menuntut ilmu dan mengamalkannya.
jangan mau diperbudak oleh ambisi dunia. ini hanyalah sementara. menyesal kemudian tak ada gunanya. Mari menjadi pengemban dakwah.. dan anda akan mendapat kesenangan yang begitu luar biasa, bahkan ketika cobaan-cobaan mendera anda.. karena yakinlah kita hanya butuh Allah yang mencintai kita.. maka ketika Allah sudah mencintai kita, berarti itu adalah hadiah terbesar untuk hambaNya.
Wallahua'lam.
Jumat, 05 Juni 2009
pelajaran berharga bagi semua
Asl.wrwb.
Apa yang terjadi hari ini, tentunya merupakan suatu pelajaran berharga bagiQ, dan tentunya bagi manusia pada umumnya..Tetap, semua manusia akan kembali pada Zat yang Menciptakannya, masing2 punya akhir waktu dalam perjalanan hidupnya didunia..
Hari ini, aku melepas kepergian paman. Beliau adalah adik dari pace, masih muhrim. Sebelumnya aku tak merasakan firasat apapun, tetapi dengan keadaan beliau akhir2 ini, aku hanya bisa berharap Allah swt. Agar memberinya yang terbaik.
Sore hari saat sedang nonton tv, tiba2 saja ka2Q ditlp pace supaya secepatnya kerumah pamanku yang memang sedang sakit keras sejak beberapa bulan yang lalu.. tapi karena sayanya lagi makan, jadi ka2Q perginya duluan dan kemudian aku pergi setelah maghrib karena kebetulan ketika mo keluar rumah pas masuk waktunya azan maghrib.
Aku N macea berangkat, karena ojeknya hanya satu, jadi mace perginya duluan.
Ketika tiba dekat teras rumah .. samar2 aku mendengar suara tangisan yang makin lama makin jelas terdengar.. aku sudah menduga ada sesuatu yang akan kudengar.. Ketika masuk ruang tamu, aku melihat sepupuQ Aan (9) menangis tersedu2 dan memanggil bapaknya.. begitu juga orang2 yang berada disekitar pamanQ.. saat mendekat keruang tengah, salah seorang tante memberitahukan bahwa paman telah tiada..
”Inalilahi wa inailahi rojiun”, aku lalu duduk memandangi wajah paman yang pucat dengan kain yang melingkari wajahnya antara dagu dan atas kepalanya.. saat itu tanteQ sangat tegar.. seakan sudah ikhlas akan kepergian itu..
”Inilah takdir dan inilah haq Allah, kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Akupun akan seperti ini, ibu, bapak, teman2 ngaji, semuanya. AmalQ?.... Ya Allah” itulah yang terlintas dikepalaku saat itu. Kupandangi semua orang yang lagi berduka.. suasana itu membayangkan aku yang ada dipembaringan itu.. Astaghfirullah..
Si kecil Aan yang sedang menangis disebelah kiriQ, aku tak tahan melihatnya, dengan umurnya yang masih kelas 6 SD dia harus menerima kenyataan ini, aku hanya bisa diam memeluk dan mengusap air matanya, dia sadar bahwa bapaknya sudah tiada. Tapi, dia anak yang tangguh, setelah Ibunya memeluknya lalu mencoba memahamkannya bahwa beginilah manusia, ada yang lahir ada yang pergi, dia kemudian tidak sesedih sebelumnya. Walau aku yakin besoknya pasti nangis lagi.
”Ya Allah berikanlah ketabahan bagi mereka agar kuat menghadapi cobaan ini. Tunjukkanlah mereka jalan yang engkau ridhoi, begitu pula kepada kami. Masukkanlah kami kedalam golongan orang2 yang beruntung”. Amin


