Pages - Menu

Senin, 20 Desember 2010

Tobat Seorang Hamba yang Melampaui Batas



Alkisah, diceritakan dari Ibrahim bin Adham. Bahwasanya ada seseorang yang mendatanginya, lalu orang itu berkata: “Wahai Abu Ishaq, aku adalah orang yang telah melampaui batas. Saya mohon kamu mau bercerita kepadaku tentang zuhud, agar Allah swt berkenan membuat hatiku menjadi lembut dan menjadikannya bercahaya.”

Ibrahim menjawab: “Jika kamu bisa menerima apa yang akan aku nasihatkan kepadamu tentang enam perkara, niscaya apa yang selanjutnya akan kamu lakukan tidak akan membahayakannyamu.”

Lelaki itu kemudian bertanya: “Apa kiranya enam perkara itu?”

Ibrahim menjawab: “Perkara pertama yang akan aku nasihatkan, jika engkau bermaksiat kepada Allah, maka janganlah kamu makan dari rejeki Allah.”

Lelaki kembali bertanya: “Apabila timur dan barat, tanah dan lautan, daratan dan pegunungan adalah rejekiNya, lantas dari mana saya harus mencari?”

Ibrahim menjawab: Maka dari itu, apakah pantas bagimu makan dari rejekiNya, sedang kamu bermaksiat kepadaNya.”

Lelaki itu berkata: “Demi Allah tidak akan. Ceritakan perkara yang kedua.”

Ibrahim menjawab: “Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah kamu bermaksiat di bumiNya.”

Lelaki bertanya: “Wahai Ibrahim, yang ini lebih berat dari yang pertama. Jika semua negeri adalah milikNya, maka di negeri sebelah mana aku harus tinggal?”

Ibrahim menjawab: “Maka dari itu, apakah laik bagimu berada di negeriNya, makan dari rezekiNya, dan juga bermaksiat kepadaNya?”

Lelaki berkata: “Demi Allah tidak akan. Ceritakan perkara yang ketiga.”

Ibrahim menjawab: “Jika kamu ingin bermaksiat kepadaNya, maka usahakanlah agar Ia tidak melihatmu.”

Lelaki berkata: “Wahai Ibrahim, bagaimana hal ini bisa terjadi, sedangkan Ia melihat apa-apa yang tersembunyi, dan mengetahui apa-apa yang tampak.”

Ibrahim menjawab: “Maka dari itu, apakah pantas bagimu untuk makan dari rezekiNya, berada di negeriNya, bermaksiat kepadaNya, sedang Ia melihatmu?”

Lelaki berkata: “Demi Allah tidak akan, lanjutkan perkara keempat.”

Ibrahim menjawab: “Jika malaikat pencabut nyawa mendatangimu untuk mencabut rohmu, maka katakanlah kepadanya: “Berilah aku waktu untuk bertobat!”

Lelaki berkata: “Ia tidak akan mau menerima permintaanku.”

Ibrahim menjawab: “Jika kamu sudah mengetahui bahwa dirimu tidak mampu menahan malaikat pencabut nyawa, sangatlah mungkin ia akan datang kepadamu sebelum kami bertobat.”

Lelaki berkata: “Kamu benar. Baik, ceritakan perkara yang kelima.”

Ibrahim menjawab: “Jika malaikat Mungkar Nakir mendatangimu, maka jawablah mereka dengan mengatakan: “jika kamu mampu.”

Lelaki berkata: “Aku tidak akan mampu untuk melakukan hal itu. Ceritakan perkara yang keenam.”

Ibrahim menjawab: “Jika hari esok itu merupakan kekuasaan Allah, dan Ia memerintahkan kepadamu untuk masuk neraka, maka katakana kepadaNya: “Aku tidak akan masuk kesana.”

Lelaki berkata: “Cukup wahai Ibrahim, cukup, cukup.”

Teman…

Ini adalah kisah inspiratif yang menggugah tentang percakapan antara seorang lelaki dan Ibrahim bin Adham dengan 6 nasehatnya yang akan membuatmu berpikir. Bahwa surga itu butuh pengorbanan besar dan bersungguh-sungguh karena Allah itu Maha Adil…

Teman…

Kisah ini bukan dongeng

Kisah ini mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan, bahwa ibadah itu bukan main-main.. Dunialah permainan itu..

Mari belajar darinya karena kita tak kan pernah berhenti belajar..

bertaubatlah karena “tak ada kata terlambat..”
  

Jumat, 17 Desember 2010

PERJALANAN RASULULLAH SAW KE THAIF



Selama 9 tahun kerasulan, Nabi Muhammad saw. Telah berusaha menyampaikan ajaran Islam dan mengusahakan hidayah serta perbaikan kaumnya di Makkah, namun sangat sedikit yang menerima ajakan beliau, kecuali orang-orang yang sejak awal telah masuk Islam. Selain mereka, ada orang-orang yang belum masuk Islam, tetapi siap memmbantu Rasulullah saw. Dan kebanyakan orang-orang kafir Makkah selalu menyakiti dan mempermainkan beliau dan para  sahabat beliau.

Abu Thalib termasuk orang yang belum memeluk Islam, namun sangat mencintai Nabi saw. Ia akan melakukan apa saja yang dapat menolong Nabi saw. Pada tahun kesepuluh kenabian, ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum kuffar semakin berkesempatan untuk mencegah perkembangan Islam dan menyakiti kaum muslimin.

Rasulullah saw. pun pergi ke Tahif. Di sana ada suatu kabilah bernama Tsaqif, yang sangat banyak anggotanya. Beliau berpendapat, jika mereka memeluk Islam, kaum muslimin akan terbebas dari siksaan orang-orang kafir tersebut, dan akan menjadikan kota itu sebagai pusat penyebaran Islam. Setibanya di Thaid, Nabi saw. langsung menemui tiga orang tokoh masyarakat dan berbicara dengan mereka, mengajak mereka agar membantu Rasulullah saw.. Namun, mereka bukan saja menolak, bahkan sebagai orang arab yang terkenal dengan adatnya yang sangat menghormati, itu pun tidak mereka lakukan. Bahkan, mereka menjawab dengan terang-terangan dan menerima beliau dengan sikap yang sangat buruk. Mereka  menunjukkan perasaan tidak suka atas kedatangan Rasulullah saw.. Pada mulanya, beliau berharap agar kedatangan beliau kepada tokoh masyarakat itu  akan disambut baik dan sopan. Ternya sebaliknya, diantara mereka ada yang berkata, “Wahai, kamukah orang yang dipilih oleh Allah sebagai NabiNya?” Yang lain berkata, “Tidak adakah selain kamu yang lebih pantas dipilih Allah sebagai Nabi?” Yang ketiga berkata, “Aku tidak mau berbicara denganmu, sebab jika kamu memang seorang Nabi seperti pengakuanmu, lalu aku menolakmu, tentu itu akan mendatangkan bencana. Dan jika kamu berbohong, aku tidak ingin berbicara dengan orang seperti itu.” Setelah itu, dengan persaan kecewa terhadap mereka, Nabi saw. berharap dapat berbicara dengan orang-orang selain mereka. Inilah sifat Rasulullah yang selalu bersungguh-sungguh, teguh pendirian, dan tidak mudah putus asa. Ternyata, tidak seorang pun di antara mereka yang bersedia menerima beliau. Bahkan mereka membentuk beliau dan berkata, “Keluarlah kamu dari kampung ini! Pergilah kemana saja yang kamu sukai!”

Ketika Nabi saw. sudah tidak dapat mengharapkan mereka dan bersiap-siap akan meninggalkan mereka, menyuruh anak-anak tersebut mengikuti beliau saw., lalu mengganggu, mencaci, serta melemparinya dengan batu, sehingga sandal beliau berlumuran darah. Dalan keadaan seperti inilah Nabi saw. meninggalkan Thaif. Ketika pulang, beliau menjumpai sebuah tempat yang dianggap aman dari kejahatan mereka. Beliau berdoa kepada Allah swt.,

Ya Allah, kepada-Mulah kuadukan lemahnya kekuatanku, kurangnya upayaku, dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai Yang Maharahim dari sekalian rahimin, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang merasa lemah, dan engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku.  Kepada orang asing yang akang memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang Engka berikan segala urusanku, tiada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Lindungan-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan Nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan dengannya menjadi baik dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau turunnya keridakridhaan-Mu kepadaku. Jauhkanlah murka-Mu hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.”

Allah penguasa seluruh alam pun meperlihatkan keperkasaan-Nya. Demikian sedih doa Nabi saw., sehingga Jibril a.s. dating untuk meberi salam kepada beliau dan berkata, “Allah mendengar perbincanganmu dengan kaummu, dan Allah pun mendengar jawaban mereka, dan Dia mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apa pun perintahmu kepadanya.” Malaikat itu pun datang dan member salam kepada Nabi saw. seraya berkata, “Apa pun yang engkau perintahkan akan kulaksanakan. Bila engkau suka, akan kubenturkan kedua gunung di samping kota ini sehingga siapa saja yang tinggal di antara keduanya akan hancur binasa. Jika tidak, apa pun hukuman yang engkau inginkan, aku siap melaksanakannya.” Rasulullah saw. bersifat pengasih dan mulia ini menjawab, “Aku hanya berharap kepada Allah, seandainya saat ini mereka tidak menerima Islam, semoga kelak keturunan mereka akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah.”

Demikianlah akhlak Nabi yang mulia. Kita mengaku sebagai pengikutnya, namun ketika kita ditimpa sedikit kesulitan atau celaan, kita langsung marah, bahkan menuntut balas seumur hidup. Kezhaliman dibalas dengan kezhaliman, sambil terus mengaku bahwa kita adalah umat Nabi saw.. Padahal dengan pengakuan itu, seharusnya segala tingkah laku kita mengikuti beliau. Jika mendapat kesulitan dari orang lain, Nabi saw. tidak pernah mendoakan keburukan dan tidak pernah berkeinginan menuntut balas.

Kamis, 16 Desember 2010

KELACURAN BICARA GADIS PESISIR


Perhatikan wanita yang tutur bicaranya menjadi bencana buruk baginya.

Diriwatkan dari Al-Auza’i, tuturnya, “Saya pernah bertanya pada Az-Zuhri, siapakah istri Nabi yang meminta perlindungan dari beliau?

Ia menjawab, ‘Saya pernah diberitahu oleh Urwah, dari Aisyah ra., bahwasanya seorang gadis pesisir dipersembahkan kepada Nabi saw. (sebagai istri), namun ketika dia dimasukkan ke kamar Nabi saw. Dan beliau mendekatinya, ia malah berseru, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’

Beliau pun berkata kepadanya (menceraikannya), ‘Kamu telah berlindung dengan Yang Mahaagung. Pulanglah kepada keluargamu” (HR. Bukhari)

Serta-merta beliau menceraikan gadis yang baru saja dinikahinya karena kelacuran bicaranya, dan ia pun batal menjadi pendamping manusia terbaik dan menjadi ibunda kaum mukminin.

CENTIL DALAM BERBICARA


Allah berpesan kepada istri-istri Nabi saw., sekaligus istri-istri kaum mukminin. Dia berfirman, “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab : 32)

Karena suara dan nada bicara wanita memiliki pengaruh dan pesona yang mampu melambungkan angan dan imajinasi kaum laki-laki maka Allah pun melarangnya untuk mendayu-dayukan suaranya di depan laki-laki asing. Akan tetapi, hal itu hanya boleh dilakukannya dengan suaminya saja sebab ia bisa menjadi jalan memasuki hati.

Perhatikan ujaran para penyair mengenai kaum wanita.

Basysyar bin Bard mengatakan,

Sebuah bicara yang
Seolah-olah bak potongan emas dan perak
Yang didalamnya terpancar warna kuning dan putih

Katanya lagi,

Seolah-olah di bawah bibirnya ada malaikat Harut
Yang menyemburkan pesona sihir di dalamnya
Seolah-olah dengung bicaranya adalah
Potongan-potongan emas perak yang terbungkus bunga

Bagian I. NEGARA KHILAFAH ADALAH PERKARA UTAMA KITA


PERKARA UTAMA ADALAH PERKARA HIDUP DAN MATI
  
“Demi  Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku agar aku berhenti dari perkara (dakwah Islam) ini, niscaya aku tidak akan berhenti, hingga Allah memenangkan perkara ini atau aku mati karenanya.

Adanya naluri  mempertahankan diri membuat setiap bangsa atau orang di dunia ini memiliki perkara 
utamanya masing-masing. Perkara utama itu adalah perkara yang membuat bangsa atau orang tersebut rela memperjuangkan dengan penuh semangat, tanpa keraguan, alasan, ataupun perdebatan. Perkara itu bisa jadi terkait dengan kemusnahan sekelompok orang atau perlindungan dari sesuatu yang mengancam kelangsungan hidup mereka. Perkara tersebut mempunyai standar yang khas dan hampir identik bagi semua orang.

Demikian pula langkah-langkah yang dimbil untuk mengatasinya mirip atau sama bagi semua orang, karena persoalan tersebut senantiasa terkait dengan ancaman terhadap kelangsungan hidup seseorang. Karena itu, standarnya sama dan persoalannya juga sama.

Akan tetapi, tidak setiap persoalan yang berkaitan dengan naluri mempertahankan diri adalah perkara yang utama. Sebaliknya, perkara yang utama tidak melulu persoalan berkenaan dengan naluri mempertahankan  diri. Ada perkara utama tertentu yang berhubungan dengan naluri beragama (gharizah at-tadayyun) atau dengan naluri berkasih-sayang atau mempertahankan jenis (Gharizah an-nau’). Meskipun demikian, adanya perbedaan dalam penentuan mana perkara yang utama dan mana yang tidak utama merupakan konsekuensi logis dari adanya perbedaan dalam paradigm kehidupan. Perbedaan paradigma itulah yang menyebabkan perbedaan dalam penentuan perkara utama dan standarnya. Oleh karena itu, munculnya perbedaan di kalangan orang dan bangsa-bangsa dalam memandang perkara utama adalah persoalan yang wajar, mengingat adanya paradigm kehidupan yang berbeda tadi.

Kaum Muslim adalah umat yang satu dan mereka memiliki banyak perkara utama. Perkara bagi suatu ummat, baik itu yang berkaitan dengan naluri mempertahankan diri, naluri beragama, atau naluri berkasih saying, harus sesuai dengan paradigm kehidupannya. Paradigma kehidupan kaum muslim ditentukan oleh Islam. Maka dari itu, Islamlah yang menentukan mana yang menjadi perkara utama umat sekaligus yang menjadi standarnya.
Islam menjelaskan bahwa perkara utama serta standar hidup dan mati dalam menyelesaikan persoalan tersebut adalah sebuah kewajiban. Sehubungan dengan itu, kaum Muslim tidak memiliki pilihan dalam menentukan perkara utamanya. Apa yang oleh Islam dianggap sebagai perkara utama, maka harus diterima sebagai perkara utama oleh kaum Muslim. Demikian pula mereka tidak memilki pilihan untuk menentukan standar dalam menghadapi persoalan itu, karena ketika Islam menentukan bahwa persoalan itu, karena ketika Islam menentukan bahwa suatu persoalan adalah perkara utama, Islam juga telah menetapkan standar yang harus dijadikan ukurannya. Adanya ancaman terhadap Islam dan ancaman  terhadapa eksistensi kaum Muslim dalam kapasitas mereka selaku muslim, adalah hal yang lumrah. Setiap gerakan yang ada dalam kehidupan ini berpotensi mendapat ancaman terhadap eksistensinya, khususnya gerakan yang berupaya memperbaiki keadaan, dan lebih khusus lagi gerakan yang lantang.

 Kedatangan Islam menjadi awal dari pertarungan abadi nan sengit antara Islam dan kekufuran. Pertarungan itu menyangkut masa depan Islam dan kekufuran itu sendiri. Pertumpahan darah yang menyertai pertarungan pemikiran sejak berdirinya Negara Islam di Madinah merupakan risiko dari upaya menjaga perkara utama umat Islam. Dengan demikian, keberadaan perkara utama tersebut bagi kaum muslim adalah hal yang aksiomatis dan tidak dapat dihindari, begitu pula dengan keharusan untuk menganggapnya sebagai persoalan hidup dan mati. Dalam konteks inilah, jihad menjadi salah satu kewajiban yang paling penting, sebagaimana: sabda Nabi saw.:

“Mercu suar Islam adalah Jihad”

Itulah sebabnya jihad akan terus dilakukan hingga Kiamat tiba, sebagaimana sabda beliau saw.:

“Jihad akan terus berlangsung sejak Allah mengutusku hingga generasi terakhir dari umatku memerangi Dajjal.  Jihad tidak akan berhenti karena kelaliman penguasa yang zalim ataupun karena keadilan penguasa yang adil”

Rasulullah saw. Juga bersabda:

Jihad akan tetap ada, (baik) bersama penguasa yang adil ataupun zalim.
 
Dengan begitu, kaum Muslim senantiasa maju terus pantang mundur dalam memperjuangkan perkara utamanya. Mereka tidak pernah ragu menjadikan perkara itu sebagai persoalan hidup dan mati.
Karena itulah, manakala masa depan mereka sebagai umat yang satu dan kesatuan Negara mereka terancam oleh Perang Salib, mereka menghadapi masalah itu sebagai perhara hidup dan mati. Demikian pula mereka rela terlibat dalam Perang Salib yang berlangsung lebih dari satu abad lamanya. Umat Islam akhirnya mampu mengatasi serangan yang mengancam mereka.  Kaum muslim juga melakukan hal yang sama dikala bangsa Mongol menginvasi negeri-negeri Islam. Umat Islam saat itu menganggap invasi tersebut sebagai persoalan yang mengancam eksistensinya sehingga umat menganggapnya sebagai perkara hidup dan mati, dan mereka pun rela mengorbankan nyawa tanpa mencari keuntungan duniawi demi demi memerangi bangsa mongol, sampai akhirnya kemenangan datang menghampiri.

Begitulah, kaum Muslim sudah terbiasa memandang perkara utama dan mengambil standar yang baku untuk menghadapinya, yaitu sebagai persoalan yang menyangkut hidup dan mati. Hal ini bisa terjadi karena apa yang Islam tetapkan sebagai perkara utama memang diakui sebagaimana apa adanya oleh kaum Muslim, sehingga mereka memegangnya erat-erat, dan mereka sadar bahaya yang akan terjadi jika mengabaikannya. Dengan demikian, mereka tidak dapat membayangkan adanya situasi yang mengancam eksistensi mereka tanpa mengambil standar yang telah diwajibkan Islam, yaitu memandangnya sebagai perkara hidup dan mati.
Umat Islam ataupun Negara Islam di masa silam tidak pernah lalai dan tak acuh terhadap perkara utama mereka, ataupun dalam memandangnya sebagai perkara hidup dan mati. Mereka tidak pernah melalaikan semua itu. Akan tetapi, tatkala mulai terjadi penyimpangan dalam pemahaman ke-Islaman pada diri umat dan ketika jiwa kaum Muslim melemah dalam menghadapi kekufuran yang semakin nyata, perkara utama itu tidak lagi dianggap utama dan tidak lagi dipandang sebagai persoalan yang menyangkut hidup dan mati. Dengan sendirinya, ancaman terhadap eksistensi kaum Muslim semakin besar dan kaum Muslim enggan mengorbankan jiwa dan raga untuk menghalau ancaman itu. Akibatnya, Negara Khilafah runtuh, system Islam sirna, dan eksistensi seluruh umat Islam terancam musnah.

Walhasil, kaum Muslim harus memahami perkara utamanya dari sudut pandang Islam sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu, kaum Muslim wajib mengambil standar dalam menghadapi masalah itu sebagaimana yang telah digariskan oleh al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Hanya dengan itulah, akan muncul kesadaran terhadap perkara utama, dan standar yang harus dijadikan ukurannya, sehingga tidak akan muncul sikap tidak peduli.

nantikan lanjutannya.....
(PERKARA UTAMA DALAM ISLAM) 

(sumber: BAGAIMANA MEMBANGUN NEGARA KHILAFAH dari Syabab Hizbut Tahrir Inggris)

Inilah Kabar Gembira Rasulullah saw Bagi Orang-Orang Mukmin!

Telah datang masa kenabian di tengah-tengah kalian-sesuai kehendak Allah-, kemudian masa kenabian itu akan diangkat oleh Allah hingga masa itupun berlalu. Kemudian akan datang masa kekhilafahan yang berjalan sesuai dengan manhaj kenabian, yang akan tetap ada selama Allah berkehendak, lalu masa itupun berlalu. Kemudian akan datang masa mulkan adlan (kekuasaan yang represif), yang akan tetap ada selama Allah menghendaki, lalu masa itupun berlalu. Kemudian akan datang masa mulkan jabariyyan (penguasa diktator yang bengis sebagaimana para penguasa muslim yang ada saat ini) selama Allah menghendaki, lalu masa itupun berlalu atas kehendak Allah. Kemudian akan datang masa kekhilafahan yang berjalan sesuai dengan manhaj nabi.” 

(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)

Rabu, 15 Desember 2010

PERASAAN TAKUT UMAR RA.

Kadangkala Umar ra. Memegang sebatang kayu dan berkata, “ Sedangkan aku menjadi batang kayu ini.” Terkadang ia berkata,” Seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Suatu ketika, saat ia sibuk dengan pekerjaannya, seseorang mendatanginya dan berkata, “Si Fulan telah menzhalimiku. Engkau hendaknya menuntut balas untukku.” Umar ra. Segera mengambil sebatang cambuk dan memukul orang itu sambil berkata, “Ketika kusediakan waktuku untukmu, kamu tidak datang. Sekarang, aku sedang sibuk dengan urusan lain, kamu datang dan memintaku untuk menuntutkan balas.”  Orang itupun pergi.  Lalu umar ra. menyuruh seseorang untuk memanggil kembali orang tersebut. Setelah datang, Umar ra. memberikan cambuk kepadanya dan berkata. “balaslah aku.” Jawab orang itu, “aku telah memaafkanmu karena Allah.” Umar ra. segera pulang kerumahnya dan mengerjakan shalat dua rakaat. Lalu ia berbicara pada dirinya sendiri. “Hai Umar, dahulu kamu rendah, sekarang Allah meninggikan derajatmu. Dahulu kamu sesat, lalu Allah memberikanmu hidayah. Dahulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, dan Dia telah menjadikanmu sebagai sebagai raja bagi manusia. Sekarang telah dating seorang laki-laki yang mengadukan nasibnya dan berkata, ”Aku telah di zhalimi, balaskanlah untukku, tetapi kamu telah memukulnya. Kelak pada hari kiamat, apa jawabanmu dihadapan Rabbmu?” Lama sekali Umar menghukumi dirinya sendiri. (Usudul-Ghabah)

Pelayan Umar ra., Aslam ra., berkata, “suatu ketika aku bersama umar pergi ke Harrah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu terlihat api diatas gunung. Umar berkata, “Itu mungkin kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu di luar kota. Marilah kita lihat keadaan mereka, bagaimana penjagaan malamnya!” setibanya disana, tampak seorang wanita dengan beberapa anak kecil menangis disekililingnya. Wanita itu sedang merebus air dalam kuali diatas tungku yang menyala. Umar ra. memberi salam kepada wanita tersebut dan meminta izin untuk mendekat. Ia bertanya, “ Mengapa anak-anak ini menangis?” jawab wanita itu, “Mereka Mereka kelaparan.” Umar ra. bertanya, “Apa yang sedang engkau masak dalam panci itu?” jawabnya, “panci ini berisi air, hanya untuk menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga Allah menghukum Amirul Mukminin umar yang tak mau tahu kesusahanku ini.” Umar ra. Menangis dan berkata, “Semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu?” jawabnya, “Dia pemimpin kami, tetapi tidak memperhatikan keadaan kami.”

Aslam ra. Melanjutkan ceritanya, “Lalu umar ra. mengajakku kembali ke Madinah. Ia pun mengeluarkan sekarung gandum, kurma, minya lemak, dan beberapa helai pakaian, juga beberapa dirham di Baitul Mal. Setelah karung penuh, ia berkata kepadaku, “wahai Aslam, letakkan karung ini di pundakku.” Aku menjawab, “Biarkan aku yang membawanya, ya Amirul Mukminin.” Sahut Umar ra., “Tidak, letakkan saja dipundakku.” Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa, ia berkata, “Apakah kamu akan memikul dosa-dosaku pada hari kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan memikulnya, dan aku yang bertanggungjawab terhadap hal ini.” Aku pun terpaksa meletakkan karung itu di bahunya. Lalu ia bawa karung itu ke kemah tadi dan aku ikut bersamanya. Setibanya disana, ia langsung memasukkan tepung dan sedikit lemak, ditambah kurma lalu diaduk, dan ia sendiri yang menyalakan tungkunya.”

Aslam bercerita, “Kulihat asap mengenai janggutnya yang lebat, ia memasak sampai matang. Lalu, ia sendiri yang menghidangkan makanan itu dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Selesai makan, anak-anak itu bermain dengan riangnya. Wanita itu pun sangat senang, ia berkata, “Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya engkau lebih berhak menjadi khalifah daripada umar.” Kemudian Umar ra. Meletakkan kedua tangannya dibawah dan duduk diatas tanah. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan mereka. Umar ra. Berkata kepada Aslam ra., “Aku tadi duduk disitu karena aku telah melihat mereka menangis, dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa.” (Asyharu Masyahir)

Dalam shalat-shalat shubuhnya, Umar ra. Selalu membaca surat-surat Al-Qur’an yang panjang. Kadangkala ia membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat lainnya sambil menangis terisak-isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika, Umar ra. Membaca surat Yusuf dalam shubuhnya. Ketika sampai di ayat:

“Ya’qub menjawab, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukkan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86). Ia menangis terisak-isak sampai tidak terdengar suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Qur’an sambil menangis di dalam tahajjudnya hingga terjatuh dan sakit.
Subhanallah, inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah Ta’ala, yang namanya sangat ditakuti oleh raja-raja. Setelah lebih dari 1300 tahun berlalu, adakah hari ini seorang raja, pejabat, atau pemimpin biasa yang memiliki tanggungjawab dan kasih sayangnya terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti Umar ra.?

Rabu, 08 Desember 2010

MyCHAPTER


Ini baru dasar masa depan. Aku hanya bisa berpositif thinking saat itu ketika gagal masuk dalam jurusan yang kuidam-idamkan selama bertahun-tahun, menjadi seorang dokter hewan yang hebat. No, it’s true!. Yang kurasakan saat itu, apakah aku harus berduka ataukah bersuka cita?. Paling tidak, kupikir, masalahnya adalah bukannya aku tidak mampu, tapi inilah yang terbaik dari Allah swt untukku. Dunia itu berputar. Aku hanya harus melanjutkan hidupku. Mencari yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Karena Hidup punya tujuan. Ibadah. “I’ve get little faith in me..”. Aku tidak ingin masa kekosongan melanda hidupku.

Urutan ke dua adalah menekuni sesuatu yang kurasa nyaman. Bahasa. Ya, pilihanku adalah jurusan bahasa Inggris. Akhirnya aku pun bebas test ke jurusan itu di universitas lokal di kotaku. Awalnya ku tak pernah menyangka akan menjadi seorang guru. Sempat membuatku bingung dan merasa kecil. Tapi, setelah mengetahui posisi guru dalam sejarah dan Islam, belum lagi aku melihat materi-materi yang dicantumkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia yang disusupi oleh pemikiran-pemikiran barat yang busuk, aku dengan tegas dan bangga mengatakan dalam hatiku, “I have to be a great teacher ever!!”

Setelah lulus kuliah S1, ayah menyuruhku untuk melanjutkan keahlian itu ke jenjang S2. Aku tak heran mengapa ayah sangat ingin melihatku sekolah yang tinggi. Membunuh semua rasa pesimis tentang hal-hal yang bisa merangkul kegagalan. Tak lain karena ia pun berasal dari keluarga pelajar. Gemar belajar dan berjuang keras untuk pendidikan. Lain dengan ibu yang berani. Karena ia berasal dari keluarga pedagang. Selalu punya ide dan ahli dalam berstrategi. Ia lebih berambisi menjadikan anak-anaknya menjadi manusia berakhlak baik demi kehidupan selanjutnya. Baginya, jihad sebagai istri dirumah lebih mulia daripada mempertahankan eksistensi diri diluar rumah yang beresiko terhadap unsure kebahagiaan keluarga. Kalaupun bekerja, hal itu bukanlah sesuatu yang harus di utamakan. “Karena kita adalah perempuan, dan agama Islam mengatur itu, jangan jauh. Kau hanya ingin membantu suamimu bukan? Menjadi guru dan pedagang tidak akan banyak menyita waktumu pada sesuatu yang dapat melalaikan jihadmu” katanya. Dimataku, ibu berhasil dengan ambisinya itu. Seorang teman pernah menasehatiku “keuntungan saat berproses dalam mencari nafkah adalah dengan menjaga nilai-nilai perilaku kita. Uang bukanlah hal yang harus selalu dipikirkan, karena Allah Mahatahu kebutuhan kita, kita tidak akan terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tetapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani. Keep istiqomah!”. Impian itu adalah apa-apa yang dibenarkan dalam Islam.

Kodenya adalah “F.O.K.U.S”, fokus. Ada lusinan keinginan , tapi yang bisa menarik itu semua menjadi keberhasilan adalah fokus. Halaman harus terus dibuka. Bergerak melihat kegagalan menjadi sesuatu yang mencerahkan untuk kedepannya. Sampai pada episode akhir bahwa kau hebat dalam memainkan kartu. Dan patung tidak bisa bermain kartu. Dan dakwah Islam perlu pengorbanan yang tidak biasa tetapi luar biasa. Bagaimana bisa bertempur kalau tidak punya senjata dan keahlian dalam bertempur. Al Qur’an dan al Hadits adalah panduan, layaknya peta. Kau harus mempelajarinya untuk menemukan harta karun, karena kalau tidak sesuai petunjuk, akan keliru bahkan tersesat. Dan Islam adalah ideologi dengan peta yang paling terstruktur. Ia unggul dan sempurna. Dan lahan yang kering akan subur ketika ada yang mau mengolahnya dengan cara yang benar. Rasulullah tidak mengajarkan kemungkaran.

Artikel Terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers